Selasa, 25 Juni 2013

#Artikel - Matikan Mesinmu, Selamatkan Nyawamu

  Berkendaraan pribadi sudah menjadi kebutuhan bagi kaum urban di zaman modern ini. Dengan tujuan agar para pengendara dapat lebih mudah mencapai lokasi yang hendak dituju. Terutama pengendara roda empat, entah sudah berapa banyak jumlah pengendara roda empat disuatu kota besar. Karena saat ini dapat dikatakan bahwa satu kepala satu mobil.
            Namun tidak semua para pengendara mobil memahami benar etika dalam berkendara. Terlepas dari maraknya kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pengendara. Akhir-akhir ini santar terdengar kabar orang meninggal di dalam mobil yang diam dengan AC menyala. Hal tersebut menarik perhatian untuk dipahami lebih lanjut. Bahwasanya kini bahaya memang dapat datang dari berbagai hal.
            Menurut hasil penelitian penyebab maraknya kasus orang meninggal didalam mobil yang diam dengan AC menyala adalah adanya deteksi keracunan zat beracun berupa gas (monoksida)  yang berlebihan dalam ruang sempit. Keracunan udara yang dimaksud ini sebenarnya karena terhirupnya gas karbon monoksida ke dalam tubuh. Gas yang memiliki rumus kimia CO ini memang sangat reaktif dan kemudian mengikat hemoglobin dalam darah. Efek yang kemudian terjadi adalah tubuh kekurangan oksigen dan kemudian supplai oksigen ke dalam otak akan berkurang. Kekurangan supplai oksigen ini umumnya berlangsung secara perlahan dan tanpa disadari oleh korban yang mungkin akan merasakan lemas, mengantuk dan kemudian terlelap. Pada saat inilah kemudian tubuh sudah tidak berdaya dan tidak sadar yang  berujung pada kematian.
            Gas CO yang tidak berbau ini memang dapat membunuh seseorang dalam hitungan menit. CO dapat dihasilkan dari pembakaran bahan bakar yang tidak sempurnaGas CO keluar bersama asap atau gas-gas lain. Pada prakteknya gas-gas ini dikeluarkan melalui knalpot pada kendaraanDengan demikian kontak CO pada manusia dapat dihindari karena gas CO ini akan terbuang ke udara luar.
Namun seringkali gas CO yang terbuang ini menjadi ancaman sendiri. Hal ini terjadi saat gas CO terakumulasi di ruangan terbatas dan ada manusia atau hewan di ruangan tersebut. Efeknya tentu CO akan meracuni manusia atau hewan itu yang berakibat pada kematian. Pada situasi ini, gas-gas CO yang terbuang akan berada di ruangan dan menyebar untuk ikut terhirup dalam sistem pernafasan yang kemudian meracuni. Oleh karena itu sangat dihindari pembakaran atau penggunaan bahan bakar pada ruang yang tertutup atau tanpa ketersediaan saluran pembuangan yang memadai.
Seperti halnya yang terjadi pada kasus keracunan dalam mobil, hal ini dapat dilihat dari asalnya kalau gas CO diproduksi dari pembakaran bahan bakar untuk menghidupkan mesin. Gas hasil pembakaran ini tentunya sudah dikeluarkan lewat pipa knalpot untuk dibuang ke udara luar. Namun pada prakteknya gas ini juga dapat terbawa masuk ke dalam ruang kabin mobil melalui jalur pendingin udara. Hal ini dapat terjadi jika mobil berada dalam keadaan diam, namun mesin kendaraan dan AC dalam keadaan hidup. Terlebih lagi jika situasi ini dilakukan berada dalam ruangan sempit tanpa ventilasi memadai seperti di dalam garasi mobil. Kalau sudah seperti ini maka peluang keracunan gas CO bagi orang yang berada di dalam mobil sangat besar.

            Dengan banyaknya kasus serupa yang terjadi maka ini dapat menjadi catatan penting yang wajib dipahami betul oleh seluruh pengendara maupun penumpang kendaraan roda empat. Bahwa jika dalam mengendarai mobil kemudian akan memberhentikan mobil dalam waktu lama seperti parkir atau beristirahat, hendaknya mesin mobil dimatikan dan ac tidak perlu dihidupkan. Jika perlu keluar dari kendaraan saja. Mungkin cara-cara tersebut dapat dilakukan untuk menghindari kematian akibat keracunan gas CO ini.

#April 22th 2013

~Z.A.Y~

#CERPEN - KUNANG

KUNANG
Aku tahu itu cinta saat aku menyadari kenyataan bahwa ia selalu hadir dalam benak ku. Hingga aku sadar dia lah yang pertama bagiku. Namanya Kunang. Usianya sama persis denganku. Saat ini dia dan aku telah menginjak bangku kuliah di tahun yang sama namun tempat yang berbeda.
Aku dan Kunang adalah teman masa kecil. Kami tumbuh di lingkungan yang sama. Sebelas tahun yang lalu tepatnya kami pertama kali bertemu. Saat itu aku harus mengikuti orang tuaku yang dipindah tugaskan dari Irian Jaya ke Yogyakarta. Aku tidak menyangka jika hari itu, hari dimana pertemuanku dengan Kunang akan mengubah hari-hariku kedepannya.
Senin pagi di bulan Juli 2002,
“Zia bangun nak, ayo segera mandi dan bergegas berangkat. Ini hari pertamamu sekolah. Masa iya murid baru kok udah telat”, kudengar samar-samar suara ibu dari balik selimutku. Berhubung Yogyakarta pagi itu dinginnya sangat menusuk, aku tarik kembali selimutku hingga menutupi seluruh wajahku. Tapi bukan ibu namanya kalo tidak giat. Akhirnya tanpa perlawanan aku pun bangun dan bergegas mandi.
Pagi itu sekolah masih nampak sepi. Ah ini gara-gara ibu yang membangunkan aku terlalu pagi. Aku diantar ibu pagi itu. Dengan seragam putih-merahku dan tas ransel hello kitty aku berjalan disamping ibu di sepanjang koridor sekolah. Kami menuju ruang kepala sekolah. Kepala sekolah bilang, sambil menunggu bel masuk berbunyi aku dipersilahkan menunggu di ruangannya. Aku pun menurut, ibu pulang ke rumah lebih dulu. Tak berapa lama kemudian bel masuk itu berbunyi, seorang guru datang menghampiriku. Oh mungkin itu wali kelasku, aku hanya menebak. Dan benar saja bapak guru itu mengajakku masuk ke ruang kelas yang bertuliskan KELAS IV-A. Kulangkahkan kakiku masuk ke ruangan itu, aku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru kelas.
“Pagi anak-anak, pagi ini kalian kedatangan satu teman baru. Namanya Zia. Zia, ayo perkenalkan diri mu pada teman-temanmu”, pak guru menyuruhku memperkenalkan diri.
“Na… Na…maku…. Zia. Zianatasya”, aku mencoba memperkenalkan diri dengan gugup. Aku kembali mengedarkan pandangan, aku mencoba memperhatikan wajah-wajah calon temanku. Ada yang menatapku dengan mimik ingin tertawa terbahak, ada yang tersenyum dengan ramah, ada pula yang berbisik-bisik sambil menatapku.
Kemudian aku dipersilahkan duduk. Di kelasku bangku nya sangat panjang, maka dari itu setiap satu bangku diisi oleh 4 siswa. Aku menempati bangkuku. Aku mulai berkenalan dengan teman sebangku sembari pelajaran dimulai.
Aku rasa aku mulai menyukai teman-teman baruku. Terkecuali pada 4 anak menyebalkan yang mengaku-ngaku adalah geng di kelas. Mereka mulai sibuk menggangguku sejak pelajaran pertama dimulai. Ada-ada saja tingkah mereka yang membuatku marah. Mulai dari memplesetkan namaku hingga melempariku dengan kertas saat pelajaran berlangsung. Aku menceritakan hal itu pada ibu, ibu bilang itu hal biasa. Anak-anak memang wajar bertingkah begitu. Namun aku sangat kesal dibuatnya. Terutama pada anak laki-laki yang berambut plontos itu, Kunang namanya. Dia sungguh menyebalkan. Aku rasa dia pemimpin geng jadi-jadian itu.
Description: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14754_.gifDescription: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14754_.gifDescription: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14754_.gif
Mulai hari ini dan seterusnya aku mengendarai kendaraan untuk bisa sampai ke sekolah. Ayah membelikanku sebuah sepeda mini berwarna biru dengan keranjang di bagian depannya.
Seperti pagi ini aku mengendarai sepedaku dengan santai seperti biasa. Aku kayuh sepedaku melewati rumah-rumah sambil bersiul. Ini salah satu moment favoritku. Sampai akhirnya pengganggu itu pun muncul. Kubelokkan stang sepedaku sambil bersiul untuk berbelok, seketika itu juga aku dikagetkan dengan sepeda yang tiba-tiba muncul dari balik gang yang sepertinya sengaja hendak menabrakku. Astaga! Aku kaget dan seketika aku rem dengan cepat. Efeknya adalah aku terjatuh dengan posisiku sepeda menimpaku. Aku meringis dan mengadu kesakitan, namun si penabrak itu hanya tertawa sembari berucap, “Makanya kalo naik sepeda itu liat jalan. Jangan siul-siul nggak jelas. Kayak burung aja. Weeeeeeeeeeeeek”, tidak lupa dia pamerkan dulu meletnya yang super duper jelek itu kemudian pergi.
Hari ini aku tidak pergi ke sekolah. Bukan karena kakiku masih terasa sakit, namun karena aku malu jika datang ke sekolah dengan mata merah habis menangis kemudian harus bertemu dengannya. Ibu sangat khawatir melihat aku kembali pulang ke rumah dengan mata merah. Aku tidak bercerita pada ibu jika Kunang kembali mengerjaiku. Aku hanya bilang jika aku terjatuh karena polisi tidur. Ibu percaya saja. Kemudian aku masuk ke kamar dan menangis sejadi-jadinya.
Ternyata kejahilan Kunang hari itu bukan untuk yang terakhir kalinya. Justru itu baru awal permulaan kejahilan Kunang selanjutnya.
Bulan berganti, semester baru pun dimulai. Aku rasa aku mulai terbiasa dengan semuanya. Terutama dengan kenakalan Kunang. Tanpa aku sadari aku mulai menunggu-nunggu ulah Kunang selanjutnya. Segalanya mulai berubah, aku mulai menikmati segala kelakuan nakalnya.
Entah ini Jumat keberapa kalinya, yang pasti seperti biasa aku selalu menunggu-nunggu hari Jumat.
Jumat ini seperti Jumat-Jumat sebelumnya, sekolah usai lebih awal. Aku bergegas mengayuh sepedaku agar cepat sampai di rumah. Ibu sudah hafal apa yang akan aku lakukan sepulang sekolah pada hari Jumat. Sesampainya di rumah aku bergegas masuk kamar untuk berganti pakaian kemudian aku duduk di pinggir tempat tidur dan merapat di jendela kamar. Jendela kamarku cukup besar sehingga aku dapat memantau dengan jelas apapun yang terlihat di luar.
Aku sudah siap dengan posisiku yang dapat membuat orang bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan gadis kecil berusia 9 tahun dipinggir jendela seperti itu. Bola mataku tak henti-hentinya bergerak ke kanan dan ke kiri di balik jendela kamar.
Hingga selang beberapa waktu kemudian, yang aku tunggu-tunggu pun muncul. Suara itu. Suara rantai sepeda yang tengah dikayuh dengan kuat sembari menerpa angin. Aku bergegas berdiri dari duduk ku kemudian mengambil peralatan mainanku. Dengan jelas aku mendengar si pengendara sepeda itu berteriak dengan cepat di balik pagar rumahku. “Ziaaaa!!!”, Kunang mengucapkannya dengan sangat cepat lalu kemudian  menghilang. Maka aku segera melesat keluar kamar dan kemudian menuju halaman depan rumah.
Aku tata semua peralatan mainku. Dari kejauhan samar-samar aku mendengar suara rantai sepeda yang tengah dikayuh lagi. Aku tidak bergeming dan tetap sibuk pada mainanku. Hingga suara rantai sepeda yang tengah dikayuh itu semakin mendekat dan terdengar lagi suara teriakan, “Zia…. Dicari Kunang tuh”, oh rupanya itu suara Farhan. Farhan adalah teman Kunang. Senyum mengembang di wajahku tanpa aku bergeming.
Itu sudah menjadi kebiasaan bagiku di setiap hari Jumat bahkan hingga semester berganti. Kunang dan gengnya akan melewati rumahku untuk menuju masjid dan melaksanakan solat jumat. Rumah kami memang berada pada satu komplek yang sama. Rumah Kunang beberapa blok di belakang rumahku. Dan terdapat masjid pula didekat rumahnya. Tapi entah  apa yang membuatnya lebih memilih untuk menuju masjid dekat rumahku.
Aku tetap bermain di halaman depan rumah hingga ibu mulai memanggilku untuk makan siang, “Zia, ayo masuk nak. Makan siang dulu. Masa dari tadi main terus di luar. Panas loh, ayo masuk”. “Iya bu sebentar lagi. Nanggung ini lagi asik mainnya”, kilahku.
Orang-orang yang melakukan ibadah solat jumat di masjid mulai berhamburan keluar. Tapi suara kayuhan rantai sepeda yang aku tunggu tidak juga muncul.
Baru saja aku hendak berdiri untuk pergi, aku mendengar suara rantai-rantai sepeda yang tengah dikayuh itu. Aku urungkan niatku untuk beranjak, karena suara rantai yang tengah dikayuh itu yang sedari tadi aku tunggu.
Suara semakin dekat, hingga kemudian aku dengar Kunang berkata, “Heh Zia jelek. Ngapain kamu jongkok mainan tanah begitu? Weeeeeeeeeeeek”, kemudian pergi. Farhan dan yang lainnya tertawa terbahak. Rasanya aku ingin melempari mereka dengan mainan-mainan yang sedang aku genggam. Sungguh menyebalkan, Kunang memang selalu begitu.
Description: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14754_.gifDescription: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14754_.gifDescription: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14754_.gif
Ada kejahilan baru dari Kunang dan gengnya. Tapi sungguh aku sangat tidak menyukai kejahilan mereka kali ini. Dan ketika kejahilan itu menimpaku, aku baru menyadari bahwa mereka sungguh nakal.
Datang kesiangan mulai menjadi kebiasaanku. Seperti hal nya hari ini, aku kayuh sepedaku dengan sekuat tenaga hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras pada rantai sepedaku. Aku tahu aku sudah sangat terlambat. Sesampainya di sekolah aku segera menuju parkiran sepeda kemudian memarkirkan sepedaku sejadinya. Dari kejauhan aku melihat ke arah kelas, pintunya sudah tertutup rapat. Mungkin pelajaran sudah dimulai. Aku kemudian berlari segera menuju kelas. Begitu sampai di depan pintu kelas aku terhenti. Aku mengatur nafasku dan kemudian mengetuk pintu dengan pelan. Ketukan pertama tak ada hirauan. Oh, mungkin pak guru tidak mendengarnya. Aku ketuk lagi untuk kedua kalinya namun tetap tak ada respon dari dalam. Kuputuskan untuk membuka pintunya dari luar. Aku tekan gagang pintu ke arah bawah kemudian aku dorong perlahan.  Tepat saat itu sesuatu jatuh dari atas menimpa kepalaku. Aww! Rasanya sungguh nyeri. Aku meringis kesakitan. Seketika aku mendengar suara tawa terbahak-bahak. Oh tidak! Aku tahu dengan pasti ini ulah siapa. Aku baru menyadari jika benda yang menimpaku tadi adalah sapu kelas yang sengaja ditaruh Kunang diatas daun pintu agar ketika aku datang untuk membukanya dari luar maka sapu itu akan tepat jatuh mengenai kepalaku. Dan benar saja. 
Aku benar-benar kesal dibuatnya, aku sungguh marah. Kuambil sapu yang tadi jatuh menimpa kepalaku dan dengan sekuat tenaga aku pukulkan pada Kunang. Kunang meringis kesakitan dan tawanya pun terhenti. Huh,rasakan. Namun detik selanjutnya tanpa merasa berdosa Kunang malah mengambil segagang sapu yang lain dari pojok kelas. Dia kemudian memukulkan sapunya ke arahku. Persis seperti yang aku lakukan padanya. Dia sungguh menyebalkan. Terjadilah perang sapu di dalam kelas antara aku dan Kunang. Anak-anak yang lain hanya diam dan menonton. Tidak ada yang berusaha melerai kami. Begitu pula dengan Farhan dan anggota geng lainnya.
Perang sapu berlanjut sangat seru ditambah sebagian anak menyerukan namaku untuk memberi semangat, sebagian lagi menyerukan nama Kunang. Seperti mereka sedang menonton pertandingan di televisi. Hingga tepat saat Kunang mengarahkan sapunya ke arahku, pintu kelas terbuka. Pak guru datang dan kaget bukan kepalang melihat aku dan Kunang yang masing-masing membawa sapu dengan posisi Kunang yang mengarahkan pukulan sapunya ke arahku. Detik itu juga pak guru marah besar, “Kunang! Zia! Apa yang sedang kalian lakukan?!”.
Aku dan Kunang duduk berdua di ruang kepala sekolah sembari menunggu orang tua kami masing-masing datang. Aku sungguh tidak menyangka pak guru akan memanggil ibu untuk datang ke sekolah akibat kejadian tadi.
Tidak berapa lama ibu datang bersamaan dengan seorang nenek yang masih tampak muda dan tetap terlihat cantik. Ya itu eyang Kunang. Aku mengenal beliau karena beliau adalah teman arisan ibuku. Ibu segera duduk disampingku, dan eyang Kunang duduk disamping Kunang.
Tidak banyak yang dikatakan pak guru, beliau hanya menceritakan apa yang telah aku dan Kunang perbuat di kelas tadi. Kemudian menyuruh aku dan Kunang untuk saling meminta maaf juga terhadap ibuku dan eyang Kunang. Serta berjanji untuk tidak mengulangi hal yang tadi karena ternyata pak guru sudah mengetahui ketidak akuran kami selama ini.
Tepat di malam aku dan Kunang perang sapu, aku mendapatkan telepon aneh. Seperti seseorang yang dengan sengaja menelepon namun kemudian hanya mendiamkan saja gagang teleponnya tanpa bicara sepatah kata pun. Aku tidak menghiraukan telepon aneh tersebut. Mungkin hanya orang iseng yang salah sambung. Namun telepon aneh tersebut tidak hanya sekali terjadi, namun beberapa kali. Karena aku sudah mulai kesal menanggapinya, aku berniat untuk mengangkat telepon tersebut dan mendiamkan gagangnya seperti halnya yang dilakukan si penelpon. Aku angkat gagang telepon tanpa mengucapkan “halo” seperti sebelumnya. Aku tetap diam dan tak bersuara sepatah katapun untuk beberapa saat. Hingga akhirnya dari sumber suara si penelpon  aku mendengar cekikikan beberapa orang kemudia berkata, “Zia”, dan kemudian memutuskan sambungan telepon. Oh Tuhan. Aku tahu dengan jelas tadi itu suara siapa yang menyebut namaku. Telepon iseng itu dari Kunang. Ya, Kunang mulai menjahiliku bahkan dengan jarak jauh. Aku hanya tersenyum simpul, berharap Kunang kemudian akan menelepon kembali. Namun kenyataannya hingga beberapa selang waktu berlalu, telepon rumahku tak lagi berdering.
Description: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14754_.gifDescription: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14754_.gifDescription: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14754_.gif
Ujian kenaikan kelas berlangsung dengan cepat, begitu pula liburan kenaikan kelas hampir tidak terasa karena saking cepatnya. Tidak ada kontak antara aku dengan teman-teman kelas. Hingga tiba saatnya tahun ajaran baru kembali dimulai. Tidak ada yang berubah. Masih dengan seragam putih-merahku dan dengan sepeda mini berwarna biru aku berangkat ke sekolah untuk memulai hari baru sebagai siswi kelas V. Semua masih tampak sama hingga saat pulang sekolah aku menemukan sebuah amplop berwarna merah jambu tepat berada di dalam keranjang sepedaku. Terdapat tulisan di bagian depan amplop itu.
To : Zia
From : Kunang

Kunang? Kunang mengirim surat untukku? Dengan segera dan dipenuhi rasa penasaran aku meraih amplop itu dan segera mengeluarkan kertas dari dalamnya. Aku buka lipatan kertasnya, kata pertama dalam surat tersebut sama dengan yang tertulis pada bagian depan amplop. Dengan seksama aku perhatikan tulisan tangan yang tercetak. Tulisannya begitu bagus dan rapih. Aku tahu itu bukan tulisan Kunang. Karena aku tahu dengan jelas tulisannya yang seperti cakar ayam itu hampir tidak dapat terbaca.
To : Zia
From : Kunang
            Zia jelek, aku selipin surat di keranjang sepeda kamu yang jelek itu. Udah kamu ambil belum? Ini tulisan mbak Anin, tapi aku yang ngomong. Kamu murid baru, aku murid lama. Kamu enggak punya geng kan? Aku punya. Kamu mau enggak masuk ke geng aku? Geng paling keren sesekolah. Oiya, mbak Anin bilang aku kasih kamu surat berarti aku suka kamu. Kata mbak Anin juga kita masih kecil jadi aku  belum boleh suka sama kamu.
Aku tunggu jawabannya ya Zia….
            Oh Tuhan! Rasanya aku ingin melompat kegirangan membaca surat itu. Namun aku sadar bahwa aku masih berada di parkiran sepeda. Ketika aku hendak memasukkan kembali surat itu ke dalam amplop, aku menemukan selembar foto di dalam amplop. Itu foto Kunang. Ya Kunang memberiku selembar foto dirinya. Tapi untuk apa? Entahlah, aku kembali merapikan suratnya dan kumasukkan ke dalam amplop, begitu juga dengan fotonya. Kemudian aku bergegas menaiki sepeda dan mengayuhnya pulang dengan riang.
            Surat dari Kunang tersebut tidak membawa banyak perubahan. Kunang tetap jahil dan menyebalkan seperti biasanya. Dia tidak pernah mengungkit-ungkit soal suratnya. Bahkan dia tidak menagihku untuk menjawab pertanyaannya. Aku rasa dia bahkan tidak sadar jika telah memberiku surat merah jambu.
            Pada hari Minggu Kunang menantangku untuk bertanding badminton. Aku terima tantangannya. Dengan semangat aku kayuh sepedaku menuju rumah Kunang di Minggu pagi. Sesampainya di rumah Kunang sudah berkumpul Farhan dan teman-teman se geng lainnya. Namun tidak kutemukan Kunang. Aku kemari hanya untuk melayani tantangan Kunang, jadi jika Kunang tidak muncul juga maka aku akan segera pulang. Tidak berapa lama kemudian pintu rumah Kunang terbuka, keluarlah seorang gadis cantik yang kuketahui sebagai kakak Kunang.
            “Eh Zia, sudah datang toh? Lha wong Kunang nya aja baru bangun kok. Sebentar ya tunggu jangan pulang dulu”, ujar mbak Anin dengan logat medoknya.
            “Eh, mbak Anin. Hehe.. iya mbak aku tungguin kok”, jawabku sambil salah tingkah.
            “Oya, Kunang sempat cerita tentang kamu lho. Sebelum dia minta aku nulis surat buat kamu itu. Mungkin dia malu lha wong tulisannya elek banget gitu. Hahaa”,ucap mbak Anin santai.
            Mbak Anin sangat ramah dan baik hati. Sangat berbeda dengan Kunang yang sangat jahil dan menyebalkan.
Description: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14754_.gifDescription: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14754_.gifDescription: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14754_.gif
Aku sadar segala permulaan tentu akan selalu ada akhir. Itu berlaku untuk segala hal. Seperti  sore yang mendung ini, ayah tiba dari kantor dengan wajah yang lelah namun dengan senyum yang mengembang. Aku, ibu, dan dua adikku dikumpulkannya di ruang keluarga untuk diberitahukan hal penting. Aku sangat penasaran hal penting apa yang akan ayah sampaikan, maka aku mendesak ayah untuk segera mengatakannya tanpa harus menunggu lebih lama.
“Ayah hari ini ketiban rezeki”, ayah memulai percakapan.
“Maksud ayah?”, tanya ku yang sudah sangat tidak sabar.
“SK kepindahan ayah baru saja keluar, dan atasan ayah setuju untuk memindah tugaskan ayah ke Semarang”. Kata-kata ayah sore itu benar-benar membuat mendung di wajahku. Entah aku harus sedih atau bahagia. Aku tahu pindah ke Semarang adalah impian ayah.
“Jadi kapan kita akan pindah yah?”, ujarku dengan lesu.
“Tepat akhir bulan ini Zia. Setelah kamu dan adik-adik menyelesaikan ujian kenaikan kelas”. Ayah berkata begitu dengan sangat santai. Ayah tidak tahu bahwa ada bom dalam hatiku yang segera meledak.
Entah bagaimana mengabarkan hal ini pada teman-teman. Meyakinkan diriku saja bahwa ini bukan kabar burung sudah sangat sulit. Maka aku memutuskan untuk tidak mengabari teman-teman terlebih dahulu. Aku bersikap biasa saja selama sisa hari di akhir bulan ini. Aku bahkan tidak ingin mengingat-ingat bahwa ayah pernah bicara seperti itu. Aku nikmati waktu-waktu ku bersama mereka. Begitu pula dengan kenakalan Kunang yang belum juga berakhir, aku menikmatinya.
            Ujian kenaikan kelas telah usai. Dan hari ini adalah hari pembagian raport. Aku telah memberitahukan kepada teman-teman mengenai kepindahanku. Maka aku meminta mereka untuk turut serta dalam pengambilan raport hari ini. Hari ini aku tidak mengendarai sepeda miniku. Aku pergi ke sekolah bersama ibu dan ayah, dengan maksud sekalian berpamitan dengan guru, teman, dan kepala sekolah. Ini hari bersejarahku, maka aku membawa sebuah kamera yang akan aku gunakan untuk mengambil gambarku dengan teman-temanku.
            Pembagian raport sudah hampir usai, dan aku sudah puas mengambil gambar untuk kenang-kenangan. Namun rasanya kurang lengkap, karena sampai sesiang itu Kunang tidak juga muncul. Aku tidak tahu kemana perginya. Baik Farhan atau yang lainnya tidak ada yang tahu. Entah ada apa. Padahal aku sudah mewajibkannya untuk datang hari ini. Tapi sayang karena bahkan dia tetap tidak datang di hari perpisahanku.
            Keesokan harinya aku benar-benar pindah. Beberapa teman datang untuk memberi ucapan selamat tinggal. Termasuk Farhan dan teman se gengnya. Tapi tetap tidak kutemukan sosok Kunang.
Description: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14754_.gifDescription: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14754_.gifDescription: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14754_.gif
Semarang dibulan April enam tahun kemudian,
“Happy birthday Ziaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”, sumber suara nun jauh disana membuat telingaku sakit. Ya hari ini adalah hari ulang tahunku. Semua anggota keluarga, teman, dan sahabat berbondong-bondong mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Semuanya terasa menyenangkan. Namun rasanya tetap ada yang kurang. Aku sadar itu semenjak kepindahanku dari Yogyakarta enam tahun lalu. Aku kira setelah hari itu Kunang akan menghubungiku, namun kenyataannya tidak sama sekali. Bahkan teman-teman se gengnya pun tidak ada yang pernah mengungkitnya ketika mereka menghubungiku.
Enam tahun sudah berlalu namun Kunang tetap nyata bagiku. Walau tak pernah sekalipun dia menghubungiku. Aku tetap berharap pada suatu saat nanti Kunang akan menghubungiku. Karena aku tahu bahwa Kunang sangat membekas dihatiku. Ya, Kunang adalah cinta pertamaku.
Malam harinya sebuah pesan singkat dengan nomor tak dikenal masuk kedalam daftar inbox handphone ku.
08192702xxxx
Hi, selamat malam dan selamat ulang tahun.
Kunang.

Mataku hampir loncat membaca nama pengirimnya dibagian bawah. Aku rasa benar ada pepatah bahwa ketika kita jatuh cinta maka rasanya seperti naik ke langit ke tujuh. Dan aku merasa benar-benar sedang melayang sekarang.
Sejak kejadian malam ulang tahunku itu aku kembali berhubungan dengan Kunang. Entah bagaimana ceritanya kami menjadi dekat. Kami yang sudah sama-sama putih abu-abu.
Waktu berlalu, kami tetap saling berhubungan. Aku bahkan tahu hal-hal apa saja yang menjadi kesukaannya, mulai dari penyanyi, makanan, genre music, hingga warna. Semua terasa sangat menyenangkan hingga suatu ketika aku mengetahui bahwa Kunang sudah memiliki kekasih. Rasanya aku begitu marah dan malu. Jadi jika selama ini Kunang telah memiliki kekasih lalu untuk apa dia terus menghubungiku seperti ini? Apa ini tipe baru kejahilannya? Cara baru kenakalannya? Sungguh tidak lucu. Aku benar-benar marah dibuatnya.
Sejak saat itu aku tidak lagi berhubungan dengan Kunang. Beberapa kali sms dan teleponnya mampir ke hp ku namun aku tidak menghiraukannya. Mungkin aku masih sakit hati.
Beberapa waktu berlalu. Masa putih abu-abu telah aku lewatkan dengan manis. Kini aku menginjak bangku kuliah. Aku harus meninggalkan Semarang dan melanjutkan studiku di Bandung. Aku sempat mendengar kabar tentang teman-teman masa kecilku. Farhan dan juga anggota geng jadi-jadian yang lainnya. Bagitu juga dengan kabar Kunang. Kunang sekarang melanjutkan studinya di universitas ternama di Yogyakarta.
Description: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14754_.gifDescription: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14754_.gifDescription: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14754_.gif
Disuatu pagi yang dingin di Bandung aku mendapat sebuah email dari seorang teman bahwa akan dilaksanakan reuni akbar SD ku di Yogyakarta. Yogyakarta, masa-masa putih-merah, itu semua mengingatkanku pada Kunang. Ya, cinta pertama sekaligus yang meninggalkan luka. Tiba-tiba hp ku bergetar tanda sebuah pesan singkat diterima.
08192702xxxx
Hai, kamu harus datang pada acara reuni. Aku akan menunggumu untuk berada disana. Jangan sampai tidak hadir karena menghindariku. Aku menunggumu,

Kunang.


#September 20th 2012
~Z.A.Y~

Sajak yang Terlambat

Bahagia itu tergantung gimana kita nanggepinnya
Hal buruk bisa dibilang bahagia kalo kita nikmati itu
Kalo kita syukuri itu
Bagaimana dengan pemilihan takdir?
Oh salah
Bukan pemilihan takdir
Tapi dengan dipilihkannya takdir
Apa beda dengan ditakdirkan?
Lalu hal apa yang tidak ditakdirkan?
Apa semua harapan dan impian bisa jadi takdir?

Cinta misalnya
Atau impian?
Kalo bisa dibilang semua hal
Aku ingin sejuta impian itu aku peluk secara bersamaan
Lalu aku lullaby kan hingga sang mimpi tidak akan pernah mau lepas dari pelukanku

Lalu dengan cinta?
Aku tidak berteman dengannya
Bahkan mengenalnya pun tidak
Oh salah lagi
Aku bahkan tidak sempat, atau bahkan tidak diijinkan untuk mengenal?
Kalau saja aku diijinkan memiliki cinta
Akan aku apakan ya?
Mungkin akan aku peluk juga sama hal nya dengan impian?
Ah tidak
Karena cinta tidak bisa di lullaby kan
Kalau saja cinta itu bisa dilullaby kan

Akan aku perlakukan sama halnya impian

#October 29th 2011
~Z.A.Y~

Sabtu, 09 Maret 2013

Memoar Bali

Aku katakan aku ragu
dia tersenyum
dan menggeleng
Lebih baik tidak,

Alisnya bertaut mantap,
maka aku tahu dia bersungguh-sungguh

Aku tahu dia,
karena sorotnya yang aku hafal hampir diluar batas kemampuanku

Dia tak tersenyum saat menatap,
tapi aku tahu dia berbahasa

Aku katakan aku percaya
matanya memicing,
bahunya bergidik,
bibir itu tetap diam
namun aku tahu dia berbahasa,
Karena aku mengatakannya

~Z.A.Y~

Dia

Senyum itu takkan dengan mudah menghias bibirnya yang setipis pecahan kaca
Alisnya yang tebal akan mengerut dan menyatu seperti kepakkan sang rajawali saat ia tinggalkan ekspresi datarnya
Mata sipit nan runcingnya akan terangkat dan memicing saat ia tertuju pada satu hal
Tatapannya setajam pangkal alisnya
Tak banyak kata berucap dari bibirnya 
Punggung itu bagai papan seluncur, tegap berlekuk mengikuti poros tulang punggungnya 
Jalannya seperti air,
mantap kemana melangkah mengikuti kemana arah bumi membawanya
Takkan mungkin terseok karang buta yang cacat

Entah sejak kapan aku memperhatikannya
Entah sejak kapan aku memikirkannya
Yang aku tahu,
aku memimpikannya
dan saat aku terpesona olehnya
hatiku meminta, 
"Ijinkan aku kali ini Tuhan"


#December,6th 2009
~Z.A.Y~