KUNANG
Aku tahu itu cinta saat aku menyadari kenyataan bahwa
ia selalu hadir dalam benak ku. Hingga aku sadar dia lah yang pertama bagiku.
Namanya Kunang. Usianya sama persis denganku. Saat ini dia dan aku telah
menginjak bangku kuliah di tahun yang sama namun tempat yang berbeda.
Aku dan Kunang adalah teman masa kecil. Kami tumbuh di
lingkungan yang sama. Sebelas tahun yang lalu tepatnya kami pertama kali
bertemu. Saat itu aku harus mengikuti orang tuaku yang dipindah tugaskan dari
Irian Jaya ke Yogyakarta. Aku tidak menyangka jika hari itu, hari dimana
pertemuanku dengan Kunang akan mengubah hari-hariku kedepannya.
Senin
pagi di bulan Juli 2002,
“Zia bangun nak, ayo segera mandi dan bergegas
berangkat. Ini hari pertamamu sekolah. Masa iya murid baru kok udah telat”, kudengar
samar-samar suara ibu dari balik selimutku. Berhubung Yogyakarta pagi itu
dinginnya sangat menusuk, aku tarik kembali selimutku hingga menutupi seluruh
wajahku. Tapi bukan ibu namanya kalo tidak giat. Akhirnya tanpa perlawanan aku pun
bangun dan bergegas mandi.
Pagi itu sekolah masih nampak sepi. Ah ini gara-gara
ibu yang membangunkan aku terlalu pagi. Aku diantar ibu pagi itu. Dengan
seragam putih-merahku dan tas ransel hello kitty aku berjalan disamping ibu di
sepanjang koridor sekolah. Kami menuju ruang kepala sekolah. Kepala sekolah
bilang, sambil menunggu bel masuk berbunyi aku dipersilahkan menunggu di
ruangannya. Aku pun menurut, ibu pulang ke rumah lebih dulu. Tak berapa lama
kemudian bel masuk itu berbunyi, seorang guru datang menghampiriku. Oh mungkin
itu wali kelasku, aku hanya menebak. Dan benar saja bapak guru itu mengajakku
masuk ke ruang kelas yang bertuliskan KELAS IV-A. Kulangkahkan kakiku masuk ke
ruangan itu, aku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru kelas.
“Pagi anak-anak, pagi ini kalian kedatangan satu teman
baru. Namanya Zia. Zia, ayo perkenalkan diri mu pada teman-temanmu”, pak guru
menyuruhku memperkenalkan diri.
“Na… Na…maku…. Zia. Zianatasya”, aku mencoba memperkenalkan diri dengan gugup.
Aku kembali mengedarkan pandangan, aku mencoba memperhatikan wajah-wajah calon
temanku. Ada yang menatapku dengan mimik ingin tertawa terbahak, ada yang
tersenyum dengan ramah, ada pula yang berbisik-bisik sambil menatapku.
Kemudian aku dipersilahkan duduk. Di kelasku bangku
nya sangat panjang, maka dari itu setiap satu bangku diisi oleh 4 siswa. Aku
menempati bangkuku. Aku mulai berkenalan dengan teman sebangku sembari
pelajaran dimulai.
Aku rasa aku mulai menyukai teman-teman baruku.
Terkecuali pada 4 anak menyebalkan yang mengaku-ngaku adalah geng di kelas.
Mereka mulai sibuk menggangguku sejak pelajaran pertama dimulai. Ada-ada saja
tingkah mereka yang membuatku marah. Mulai dari memplesetkan namaku hingga
melempariku dengan kertas saat pelajaran berlangsung. Aku menceritakan hal itu
pada ibu, ibu bilang itu hal biasa. Anak-anak memang wajar bertingkah begitu.
Namun aku sangat kesal dibuatnya. Terutama pada anak laki-laki yang berambut
plontos itu, Kunang namanya. Dia sungguh menyebalkan. Aku rasa dia pemimpin
geng jadi-jadian itu.
Mulai hari ini dan seterusnya aku mengendarai kendaraan
untuk bisa sampai ke sekolah. Ayah membelikanku sebuah sepeda mini berwarna
biru dengan keranjang di bagian depannya.
Seperti pagi ini aku mengendarai sepedaku dengan
santai seperti biasa. Aku kayuh sepedaku melewati rumah-rumah sambil bersiul.
Ini salah satu moment favoritku. Sampai akhirnya pengganggu itu pun muncul.
Kubelokkan stang sepedaku sambil bersiul untuk berbelok, seketika itu juga aku
dikagetkan dengan sepeda yang tiba-tiba muncul dari balik gang yang sepertinya
sengaja hendak menabrakku. Astaga! Aku kaget dan seketika aku rem dengan cepat.
Efeknya adalah aku terjatuh dengan posisiku sepeda menimpaku. Aku meringis dan
mengadu kesakitan, namun si penabrak itu hanya tertawa sembari berucap, “Makanya
kalo naik sepeda itu liat jalan. Jangan siul-siul nggak jelas. Kayak burung
aja. Weeeeeeeeeeeeek”, tidak lupa dia pamerkan dulu meletnya yang super duper
jelek itu kemudian pergi.
Hari ini aku tidak pergi ke sekolah. Bukan karena
kakiku masih terasa sakit, namun karena aku malu jika datang ke sekolah dengan
mata merah habis menangis kemudian harus bertemu dengannya. Ibu sangat khawatir
melihat aku kembali pulang ke rumah dengan mata merah. Aku tidak bercerita pada
ibu jika Kunang kembali mengerjaiku. Aku hanya bilang jika aku terjatuh karena
polisi tidur. Ibu percaya saja. Kemudian aku masuk ke kamar dan menangis
sejadi-jadinya.
Ternyata kejahilan Kunang hari itu bukan untuk yang
terakhir kalinya. Justru itu baru awal permulaan kejahilan Kunang selanjutnya.
Bulan berganti, semester baru pun dimulai. Aku rasa
aku mulai terbiasa dengan semuanya. Terutama dengan kenakalan Kunang. Tanpa aku
sadari aku mulai menunggu-nunggu ulah Kunang selanjutnya. Segalanya mulai berubah,
aku mulai menikmati segala kelakuan nakalnya.
Entah ini Jumat keberapa kalinya, yang pasti seperti
biasa aku selalu menunggu-nunggu hari Jumat.
Jumat ini seperti Jumat-Jumat sebelumnya, sekolah usai
lebih awal. Aku bergegas mengayuh sepedaku agar cepat sampai di rumah. Ibu
sudah hafal apa yang akan aku lakukan sepulang sekolah pada hari Jumat.
Sesampainya di rumah aku bergegas masuk kamar untuk berganti pakaian kemudian
aku duduk di pinggir tempat tidur dan merapat di jendela kamar. Jendela kamarku
cukup besar sehingga aku dapat memantau dengan jelas apapun yang terlihat di
luar.
Aku sudah siap dengan posisiku yang dapat membuat
orang bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan gadis kecil berusia 9 tahun
dipinggir jendela seperti itu. Bola mataku tak henti-hentinya bergerak ke kanan
dan ke kiri di balik jendela kamar.
Hingga selang beberapa waktu kemudian, yang aku
tunggu-tunggu pun muncul. Suara itu. Suara rantai sepeda yang tengah dikayuh
dengan kuat sembari menerpa angin. Aku bergegas berdiri dari duduk ku kemudian
mengambil peralatan mainanku. Dengan jelas aku mendengar si pengendara sepeda
itu berteriak dengan cepat di balik pagar rumahku. “Ziaaaa!!!”, Kunang
mengucapkannya dengan sangat cepat lalu kemudian menghilang. Maka aku segera melesat keluar
kamar dan kemudian menuju halaman depan rumah.
Aku tata semua peralatan mainku. Dari kejauhan
samar-samar aku mendengar suara rantai sepeda yang tengah dikayuh lagi. Aku
tidak bergeming dan tetap sibuk pada mainanku. Hingga suara rantai sepeda yang
tengah dikayuh itu semakin mendekat dan terdengar lagi suara teriakan, “Zia….
Dicari Kunang tuh”, oh rupanya itu suara Farhan. Farhan adalah teman Kunang.
Senyum mengembang di wajahku tanpa aku bergeming.
Itu sudah menjadi kebiasaan bagiku di setiap hari Jumat
bahkan hingga semester berganti. Kunang dan gengnya akan melewati rumahku untuk
menuju masjid dan melaksanakan solat jumat. Rumah kami memang berada pada satu
komplek yang sama. Rumah Kunang beberapa blok di belakang rumahku. Dan terdapat
masjid pula didekat rumahnya. Tapi entah
apa yang membuatnya lebih memilih untuk menuju masjid dekat rumahku.
Aku tetap bermain di halaman depan rumah hingga ibu
mulai memanggilku untuk makan siang, “Zia, ayo masuk nak. Makan siang dulu.
Masa dari tadi main terus di luar. Panas loh, ayo masuk”. “Iya bu sebentar
lagi. Nanggung ini lagi asik mainnya”, kilahku.
Orang-orang yang melakukan ibadah solat jumat di
masjid mulai berhamburan keluar. Tapi suara kayuhan rantai sepeda yang aku
tunggu tidak juga muncul.
Baru saja aku hendak berdiri untuk pergi, aku
mendengar suara rantai-rantai sepeda yang tengah dikayuh itu. Aku urungkan
niatku untuk beranjak, karena suara rantai yang tengah dikayuh itu yang sedari
tadi aku tunggu.
Suara semakin dekat, hingga kemudian aku dengar Kunang
berkata, “Heh Zia jelek. Ngapain kamu jongkok mainan tanah begitu?
Weeeeeeeeeeeek”, kemudian pergi. Farhan dan yang lainnya tertawa terbahak.
Rasanya aku ingin melempari mereka dengan mainan-mainan yang sedang aku
genggam. Sungguh menyebalkan, Kunang memang selalu begitu.
Ada kejahilan baru dari Kunang dan gengnya. Tapi
sungguh aku sangat tidak menyukai kejahilan mereka kali ini. Dan ketika
kejahilan itu menimpaku, aku baru menyadari bahwa mereka sungguh nakal.
Datang kesiangan mulai menjadi kebiasaanku. Seperti
hal nya hari ini, aku kayuh sepedaku dengan sekuat tenaga hingga menimbulkan
bunyi yang cukup keras pada rantai sepedaku. Aku tahu aku sudah sangat
terlambat. Sesampainya di sekolah aku segera menuju parkiran sepeda kemudian
memarkirkan sepedaku sejadinya. Dari kejauhan aku melihat ke arah kelas, pintunya
sudah tertutup rapat. Mungkin pelajaran sudah dimulai. Aku kemudian berlari
segera menuju kelas. Begitu sampai di depan pintu kelas aku terhenti. Aku
mengatur nafasku dan kemudian mengetuk pintu dengan pelan. Ketukan pertama tak
ada hirauan. Oh, mungkin pak guru tidak mendengarnya. Aku ketuk lagi untuk
kedua kalinya namun tetap tak ada respon dari dalam. Kuputuskan untuk membuka
pintunya dari luar. Aku tekan gagang pintu ke arah bawah kemudian aku dorong
perlahan. Tepat saat itu sesuatu jatuh
dari atas menimpa kepalaku. Aww! Rasanya sungguh nyeri. Aku meringis kesakitan.
Seketika aku mendengar suara tawa terbahak-bahak. Oh tidak! Aku tahu dengan
pasti ini ulah siapa. Aku baru menyadari jika benda yang menimpaku tadi adalah
sapu kelas yang sengaja ditaruh Kunang diatas daun pintu agar ketika aku datang
untuk membukanya dari luar maka sapu itu akan tepat jatuh mengenai kepalaku.
Dan benar saja.
Aku benar-benar kesal dibuatnya, aku sungguh marah.
Kuambil sapu yang tadi jatuh menimpa kepalaku dan dengan sekuat tenaga aku
pukulkan pada Kunang. Kunang meringis kesakitan dan tawanya pun terhenti.
Huh,rasakan. Namun detik selanjutnya tanpa merasa berdosa Kunang malah
mengambil segagang sapu yang lain dari pojok kelas. Dia kemudian memukulkan
sapunya ke arahku. Persis seperti yang aku lakukan padanya. Dia sungguh
menyebalkan. Terjadilah perang sapu di dalam kelas antara aku dan Kunang.
Anak-anak yang lain hanya diam dan menonton. Tidak ada yang berusaha melerai
kami. Begitu pula dengan Farhan dan anggota geng lainnya.
Perang sapu berlanjut sangat seru ditambah sebagian
anak menyerukan namaku untuk memberi semangat, sebagian lagi menyerukan nama
Kunang. Seperti mereka sedang menonton pertandingan di televisi. Hingga tepat
saat Kunang mengarahkan sapunya ke arahku, pintu kelas terbuka. Pak guru datang
dan kaget bukan kepalang melihat aku dan Kunang yang masing-masing membawa sapu
dengan posisi Kunang yang mengarahkan pukulan sapunya ke arahku. Detik itu juga
pak guru marah besar, “Kunang! Zia! Apa yang sedang kalian lakukan?!”.
Aku dan Kunang duduk berdua di ruang kepala sekolah
sembari menunggu orang tua kami masing-masing datang. Aku sungguh tidak
menyangka pak guru akan memanggil ibu untuk datang ke sekolah akibat kejadian
tadi.
Tidak berapa lama ibu datang bersamaan dengan seorang
nenek yang masih tampak muda dan tetap terlihat cantik. Ya itu eyang Kunang.
Aku mengenal beliau karena beliau adalah teman arisan ibuku. Ibu segera duduk
disampingku, dan eyang Kunang duduk disamping Kunang.
Tidak banyak yang dikatakan pak guru, beliau hanya
menceritakan apa yang telah aku dan Kunang perbuat di kelas tadi. Kemudian
menyuruh aku dan Kunang untuk saling meminta maaf juga terhadap ibuku dan eyang
Kunang. Serta berjanji untuk tidak mengulangi hal yang tadi karena ternyata pak
guru sudah mengetahui ketidak akuran kami selama ini.
Tepat di malam aku dan Kunang perang sapu, aku
mendapatkan telepon aneh. Seperti seseorang yang dengan sengaja menelepon namun
kemudian hanya mendiamkan saja gagang teleponnya tanpa bicara sepatah kata pun.
Aku tidak menghiraukan telepon aneh tersebut. Mungkin hanya orang iseng yang
salah sambung. Namun telepon aneh tersebut tidak hanya sekali terjadi, namun
beberapa kali. Karena aku sudah mulai kesal menanggapinya, aku berniat untuk
mengangkat telepon tersebut dan mendiamkan gagangnya seperti halnya yang
dilakukan si penelpon. Aku angkat gagang telepon tanpa mengucapkan “halo”
seperti sebelumnya. Aku tetap diam dan tak bersuara sepatah katapun untuk
beberapa saat. Hingga akhirnya dari sumber suara si penelpon aku mendengar cekikikan beberapa orang
kemudia berkata, “Zia”, dan kemudian memutuskan sambungan telepon. Oh Tuhan.
Aku tahu dengan jelas tadi itu suara siapa yang menyebut namaku. Telepon iseng
itu dari Kunang. Ya, Kunang mulai menjahiliku bahkan dengan jarak jauh. Aku
hanya tersenyum simpul, berharap Kunang kemudian akan menelepon kembali. Namun
kenyataannya hingga beberapa selang waktu berlalu, telepon rumahku tak lagi berdering.
Ujian kenaikan kelas berlangsung dengan cepat, begitu
pula liburan kenaikan kelas hampir tidak terasa karena saking cepatnya. Tidak
ada kontak antara aku dengan teman-teman kelas. Hingga tiba saatnya tahun
ajaran baru kembali dimulai. Tidak ada yang berubah. Masih dengan seragam
putih-merahku dan dengan sepeda mini berwarna biru aku berangkat ke sekolah
untuk memulai hari baru sebagai siswi kelas V. Semua masih tampak sama hingga
saat pulang sekolah aku menemukan sebuah amplop berwarna merah jambu tepat berada
di dalam keranjang sepedaku. Terdapat tulisan di bagian depan amplop itu.
To : Zia
From : Kunang
Kunang? Kunang mengirim surat untukku? Dengan segera
dan dipenuhi rasa penasaran aku meraih amplop itu dan segera mengeluarkan
kertas dari dalamnya. Aku buka lipatan kertasnya, kata pertama dalam surat
tersebut sama dengan yang tertulis pada bagian depan amplop. Dengan seksama aku
perhatikan tulisan tangan yang tercetak. Tulisannya begitu bagus dan rapih. Aku
tahu itu bukan tulisan Kunang. Karena aku tahu dengan jelas tulisannya yang
seperti cakar ayam itu hampir tidak dapat terbaca.
To : Zia
From : Kunang
Zia jelek, aku selipin
surat di keranjang sepeda kamu yang jelek itu. Udah kamu ambil belum? Ini
tulisan mbak Anin, tapi aku yang ngomong. Kamu murid baru, aku murid lama. Kamu
enggak punya geng kan? Aku punya. Kamu mau enggak masuk ke geng aku? Geng
paling keren sesekolah. Oiya, mbak Anin bilang aku kasih kamu surat berarti aku
suka kamu. Kata mbak Anin juga kita masih kecil jadi aku belum boleh suka sama kamu.
Aku tunggu jawabannya ya Zia….
Oh
Tuhan! Rasanya aku ingin melompat kegirangan membaca surat itu. Namun aku sadar
bahwa aku masih berada di parkiran sepeda. Ketika aku hendak memasukkan kembali
surat itu ke dalam amplop, aku menemukan selembar foto di dalam amplop. Itu
foto Kunang. Ya Kunang memberiku selembar foto dirinya. Tapi untuk apa?
Entahlah, aku kembali merapikan suratnya dan kumasukkan ke dalam amplop, begitu
juga dengan fotonya. Kemudian aku bergegas menaiki sepeda dan mengayuhnya
pulang dengan riang.
Surat
dari Kunang tersebut tidak membawa banyak perubahan. Kunang tetap jahil dan
menyebalkan seperti biasanya. Dia tidak pernah mengungkit-ungkit soal suratnya.
Bahkan dia tidak menagihku untuk menjawab pertanyaannya. Aku rasa dia bahkan
tidak sadar jika telah memberiku surat merah jambu.
Pada
hari Minggu Kunang menantangku untuk bertanding badminton. Aku terima
tantangannya. Dengan semangat aku kayuh sepedaku menuju rumah Kunang di Minggu
pagi. Sesampainya di rumah Kunang sudah berkumpul Farhan dan teman-teman se
geng lainnya. Namun tidak kutemukan Kunang. Aku kemari hanya untuk melayani tantangan
Kunang, jadi jika Kunang tidak muncul juga maka aku akan segera pulang. Tidak
berapa lama kemudian pintu rumah Kunang terbuka, keluarlah seorang gadis cantik
yang kuketahui sebagai kakak Kunang.
“Eh
Zia, sudah datang toh? Lha wong Kunang nya aja baru bangun kok. Sebentar ya
tunggu jangan pulang dulu”, ujar mbak Anin dengan logat medoknya.
“Eh,
mbak Anin. Hehe.. iya mbak aku tungguin kok”, jawabku sambil salah tingkah.
“Oya,
Kunang sempat cerita tentang kamu lho. Sebelum dia minta aku nulis surat buat
kamu itu. Mungkin dia malu lha wong tulisannya elek banget gitu. Hahaa”,ucap
mbak Anin santai.
Mbak
Anin sangat ramah dan baik hati. Sangat berbeda dengan Kunang yang sangat jahil
dan menyebalkan.
Aku sadar segala permulaan tentu akan
selalu ada akhir. Itu berlaku untuk segala hal. Seperti sore yang mendung ini, ayah tiba dari kantor
dengan wajah yang lelah namun dengan senyum yang mengembang. Aku, ibu, dan dua
adikku dikumpulkannya di ruang keluarga untuk diberitahukan hal penting. Aku
sangat penasaran hal penting apa yang akan ayah sampaikan, maka aku mendesak
ayah untuk segera mengatakannya tanpa harus menunggu lebih lama.
“Ayah hari ini ketiban rezeki”, ayah
memulai percakapan.
“Maksud ayah?”, tanya ku yang sudah
sangat tidak sabar.
“SK kepindahan ayah baru saja keluar,
dan atasan ayah setuju untuk memindah tugaskan ayah ke Semarang”. Kata-kata
ayah sore itu benar-benar membuat mendung di wajahku. Entah aku harus sedih
atau bahagia. Aku tahu pindah ke Semarang adalah impian ayah.
“Jadi kapan kita akan pindah yah?”,
ujarku dengan lesu.
“Tepat akhir bulan ini Zia. Setelah
kamu dan adik-adik menyelesaikan ujian kenaikan kelas”. Ayah berkata begitu
dengan sangat santai. Ayah tidak tahu bahwa ada bom dalam hatiku yang segera
meledak.
Entah bagaimana mengabarkan hal ini
pada teman-teman. Meyakinkan diriku saja bahwa ini bukan kabar burung sudah
sangat sulit. Maka aku memutuskan untuk tidak mengabari teman-teman terlebih
dahulu. Aku bersikap biasa saja selama sisa hari di akhir bulan ini. Aku bahkan
tidak ingin mengingat-ingat bahwa ayah pernah bicara seperti itu. Aku nikmati
waktu-waktu ku bersama mereka. Begitu pula dengan kenakalan Kunang yang belum
juga berakhir, aku menikmatinya.
Ujian kenaikan kelas telah usai. Dan
hari ini adalah hari pembagian raport. Aku telah memberitahukan kepada
teman-teman mengenai kepindahanku. Maka aku meminta mereka untuk turut serta
dalam pengambilan raport hari ini. Hari ini aku tidak mengendarai sepeda
miniku. Aku pergi ke sekolah bersama ibu dan ayah, dengan maksud sekalian
berpamitan dengan guru, teman, dan kepala sekolah. Ini hari bersejarahku, maka
aku membawa sebuah kamera yang akan aku gunakan untuk mengambil gambarku dengan
teman-temanku.
Pembagian raport sudah hampir usai,
dan aku sudah puas mengambil gambar untuk kenang-kenangan. Namun rasanya kurang
lengkap, karena sampai sesiang itu Kunang tidak juga muncul. Aku tidak tahu
kemana perginya. Baik Farhan atau yang lainnya tidak ada yang tahu. Entah ada
apa. Padahal aku sudah mewajibkannya untuk datang hari ini. Tapi sayang karena
bahkan dia tetap tidak datang di hari perpisahanku.
Keesokan harinya aku benar-benar
pindah. Beberapa teman datang untuk memberi ucapan selamat tinggal. Termasuk
Farhan dan teman se gengnya. Tapi tetap tidak kutemukan sosok Kunang.
Semarang dibulan April enam tahun kemudian,
“Happy birthday Ziaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”, sumber suara
nun jauh disana membuat telingaku sakit. Ya hari ini adalah hari ulang tahunku.
Semua anggota keluarga, teman, dan sahabat berbondong-bondong mengucapkan
selamat ulang tahun padaku. Semuanya terasa menyenangkan. Namun rasanya tetap
ada yang kurang. Aku sadar itu semenjak kepindahanku dari Yogyakarta enam tahun
lalu. Aku kira setelah hari itu Kunang akan menghubungiku, namun kenyataannya
tidak sama sekali. Bahkan teman-teman se gengnya pun tidak ada yang pernah
mengungkitnya ketika mereka menghubungiku.
Enam tahun sudah berlalu namun Kunang tetap nyata
bagiku. Walau tak pernah sekalipun dia menghubungiku. Aku tetap berharap pada
suatu saat nanti Kunang akan menghubungiku. Karena aku tahu bahwa Kunang sangat
membekas dihatiku. Ya, Kunang adalah cinta pertamaku.
Malam harinya sebuah pesan singkat dengan nomor tak
dikenal masuk kedalam daftar inbox handphone ku.
08192702xxxx
Hi, selamat
malam dan selamat ulang tahun.
Kunang.
Mataku hampir loncat membaca nama pengirimnya dibagian
bawah. Aku rasa benar ada pepatah bahwa ketika kita jatuh cinta maka rasanya
seperti naik ke langit ke tujuh. Dan aku merasa benar-benar sedang melayang
sekarang.
Sejak kejadian malam ulang tahunku itu aku kembali
berhubungan dengan Kunang. Entah bagaimana ceritanya kami menjadi dekat. Kami
yang sudah sama-sama putih abu-abu.
Waktu berlalu, kami tetap saling berhubungan. Aku
bahkan tahu hal-hal apa saja yang menjadi kesukaannya, mulai dari penyanyi,
makanan, genre music, hingga warna. Semua terasa sangat menyenangkan hingga
suatu ketika aku mengetahui bahwa Kunang sudah memiliki kekasih. Rasanya aku
begitu marah dan malu. Jadi jika selama ini Kunang telah memiliki kekasih lalu
untuk apa dia terus menghubungiku seperti ini? Apa ini tipe baru kejahilannya?
Cara baru kenakalannya? Sungguh tidak lucu. Aku benar-benar marah dibuatnya.
Sejak saat itu aku tidak lagi berhubungan dengan Kunang.
Beberapa kali sms dan teleponnya mampir ke hp ku namun aku tidak
menghiraukannya. Mungkin aku masih sakit hati.
Beberapa waktu berlalu. Masa putih abu-abu telah aku
lewatkan dengan manis. Kini aku menginjak bangku kuliah. Aku harus meninggalkan
Semarang dan melanjutkan studiku di Bandung. Aku sempat mendengar kabar tentang
teman-teman masa kecilku. Farhan dan juga anggota geng jadi-jadian yang
lainnya. Bagitu juga dengan kabar Kunang. Kunang sekarang melanjutkan studinya
di universitas ternama di Yogyakarta.
Disuatu pagi yang dingin di Bandung aku mendapat
sebuah email dari seorang teman bahwa akan dilaksanakan reuni akbar SD ku di
Yogyakarta. Yogyakarta, masa-masa putih-merah, itu semua mengingatkanku pada
Kunang. Ya, cinta pertama sekaligus yang meninggalkan luka. Tiba-tiba hp ku
bergetar tanda sebuah pesan singkat diterima.
08192702xxxx
Hai, kamu harus
datang pada acara reuni. Aku akan menunggumu untuk berada disana. Jangan sampai
tidak hadir karena menghindariku. Aku menunggumu,
Kunang.
#September 20th 2012
~Z.A.Y~